Lensa Psikologi Terapan Menjawab
Silahkan Register atau LOG IN di LEPAN (kurang dari 3 menit dan GRATIS), mari saling berbagi membangun mentalitas masyarakat yang sehat dan positif.

Lensa Psikologi Terapan Menjawab

Berbagi kebersamaan untuk saling asah dan asuh menyelami dunia psikologi secara praktis dan aplikatif
 
HomePortalFAQSearchMemberlistRegisterLog in
Search
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
November 2018
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
CalendarCalendar
Latest topics

Share | 
 

 Perlukah Menampar Anak?

Go down 
AuthorMessage
BathiQoY
Observer LEPAN
Observer LEPAN
avatar

Posts : 71
Join date : 2012-06-17

PostSubject: Perlukah Menampar Anak?   Wed Jun 20, 2012 11:30 am

Pernahkah hal-hal ini Anda lakukan selaku orangtua? Membentak, menampar, mencabut hak-hak istimewanya, mengurung anaknya di kamar? Dari semua tindakan itu, seberapa sering Anda menampar? Sebenarnya banyak orangtua ingin menangani perilaku buruk anak-anaknya tanpa amarah dan tamparan. Akan tetapi mereka tak tahu caranya, tak bisa melakukannya.

Tamparan mungkin hanya menawarkan solusi sementara, tapi tetap bukan penyembuh. Anak yang ditampar biasanya akan menurut dan berperilaku baik. Namun setelah beberapa saat, anak berulah lagi. Orangtua kembali menamparnya karena tampaknya tamparan tersebut manjur pada awalnya. Anak menjadi baik untuk sementara waktu dan berperilaku buruk lagi setelah beberapa waktu. Orangtua pun menamparnya lagi, dan begitu seterusnya. Pola ini terus berlangsung layaknya lingkaran setan.



Tamparan dapat menghasilkan perilaku baik seperti halnya cokelat dan es krim yang mampu "membeli" suasana damai ketika anak ribut di toko. Menggunakan cokelat dan es krim untuk meredakan kemarahan anak merupakan solusi yang bersifat sementara. Di masa mendatang, Anda akan tetap mememerlukan banyak cokelat dan es krim untuk meredakan kemarahan anak.

Menampar dilakukan karena hal itu memberi kontrol eksternal atas anak. Namun, tindakan tersebut tidak mendorong anak-anak untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab. Ini mengajari anak berperilaku baik "atau yang lain". Anak-anak yang kerap ditampar tidak akan belajar tentang pengendalian diri. Seorang bocah berumur delapan tahun pernah menyampaikan kepada temannya, dia bisa berperilaku buruk selama dia suka. "Ibuku biasanya menamparku ketika aku harus berhenti (berperilaku buruk)."

Menampar bukanlah hukuman yang baik, karena ia hanya terjadi sebentar, dan sesudah itu usai. Banyak anak beranggapan bahwa ketika mereka sudah ditampar, segalanya beres dan mereka bisa melanjutkan apa yang mereka lakukan. "Kita impas." Tamparan menjadikan anak lebih memfokuskan pada hukumannya ketimbang perilaku mereka yang buruk.

Masalah bisa muncul dalam keluarga ketika salah satu orang tua menampar, sedangkan satunya tidak. Ini bisa menyebabkah anak-anak menghindari orang tua yang menampar. Penghindaran ini mengganggu hubungan normal orang tua - anak. Anak-anak memandang orang tua yang tidak menampar tidak mampu menangani. Anak-anak akan melanjutkan perilaku buruknya di hadapan orang tua tersebut. Anak-anak menghindari orang tua yang menampar. Mereka memandang orang tua yang tidak menampar itu lemah. Jadi, kedua orang tua tersebut kalah.

Tindakan menampar punya efek samping. Menampar jelas mempermalukan. Perlakuan yang mempermalukan menjadikan anak-anak marah, atau berpikir tentang pembalasan. Menampar bisa berdampak pada sikap anak. Seringnya anak-anak yang ditampar itu merasa tidak aman. Mereka tidak percaya pada diri sendiri. Anak-anak semacam itu percaya bahwa pemukulan merupakan bagian normal dalam kehidupan. Sehingga, ketika anak lain melakukan sesuatu yang kurang mereka sukai, mereka memukulnya. Ini menjadi masalah dengan saudara-saudaranya, dengan teman-temannya di sekolah, atau dengan teman-teman bermainnya. Saat anak-anak saling memukul, mereka menghadapi masalah. Ini membingungkan. Ketika orang dewasa baku pukul, itu tidak masalah. Tapi ketika anak-anak melakukan hal serupa, itu berarti tidak beres.

Anak-anak yang sering ditampar menganggap segala yang dilakukannya salah. Hasilnya, anak menjadi kurang menghargai diri sendiri, kurang percaya diri, dan kurang bisa mengendalikan diri. Penamparan yang terus-menerus mengajari anak berperilaku baik hanya karena takut. Kalau tidak berperilaku baik, kamu akan ditampar. Jika orang tua tidak berada di sekitar mereka untuk melakukan kontrol eksternal, si anak tak punya kendali sama sekali.

Kalau Anda sedang marah dan kemudian memaki anak Anda, hasilnya adalah sejumlah persoalan. Secara tidak langsung Anda mengajari si anak bagaimana membuat Anda marah. Anak menjadi tahu bahwa perilaku buruknya punya kekuatan atas pengendalian diri orang tuanya. Ketika Anda menampar dalam kemarahan, Anda bisa kebablasan dan mungkin menyakiti si anak.

Bukan hanya itu. Menampar dengan penuh kemarahan menciptakan emosi yang sungguh-sungguh negatif. Anda menciptakan emosi tersebut pada diri sendiri, pada anak Anda, dan pada anggota keluarga lain. Anak-anak mulai takut pada orang tuanya. Mereka pun mulai tidak percaya pada orang tua, yang akan menggiring pada kurangnya rasa percaya diri.


Menampar dalam kemarahan mengajarkan kepada anak-anak bahwa ketika marah, mereka tidak perlu melatih pengendalian diri. Pasalnya, Anda tidak menunjukkan pengendalian diri di saat marah.

Source

***
Menampar adalah perilaku putus asa, karena tidak mampu mengendalikan anak dengan ANGGUN, kemudian orangtua mengambil jalan pintas dengan menampar. Menampar menyerang wajah anak, kalaupun perlu ada kontak fisik sebagai kendali external, tamparan bukanlah salah satu opsi yang tepat.
Back to top Go down
http://www.pizza-tehijame.blogspot.com
 
Perlukah Menampar Anak?
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Piranha !!!!!
» Cara Packing Ikan Arwana untuk kirim ke Luar Kota
» Beberapa jenis Cupang hias
» Ternak convict cichlid
» Brackish Fish-Giant Trevally(Ikan Kwe)

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Lensa Psikologi Terapan Menjawab :: Tanya-Jawab atau Berbagi Mitra Pengetahuan :: Psikologi Anak dan Orangtua (Parenting)-
Jump to: