Lensa Psikologi Terapan Menjawab
Silahkan Register atau LOG IN di LEPAN (kurang dari 3 menit dan GRATIS), mari saling berbagi membangun mentalitas masyarakat yang sehat dan positif.

Lensa Psikologi Terapan Menjawab

Berbagi kebersamaan untuk saling asah dan asuh menyelami dunia psikologi secara praktis dan aplikatif
 
HomePortalFAQSearchMemberlistRegisterLog in
Search
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
November 2018
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
CalendarCalendar
Latest topics

Share | 
 

 Mitos-Mitos Kebahagiaan

Go down 
AuthorMessage
BathiQoY
Observer LEPAN
Observer LEPAN
avatar

Posts : 71
Join date : 2012-06-17

PostSubject: Mitos-Mitos Kebahagiaan   Thu Nov 07, 2013 9:15 am


Bahagia memang menarik dan selalu menjadi daya tarik dalam lika-liku perjalanan seorang anak manusia, pandangan yang umum biasa kita temukan sehari-hari seringkali menyatakan bahagia itu ada di balik uang, pernikahan, punya anak, mendapat pekerjaan dengan gaji besar. Namun ternyata hasil riset mengenai kebahagiaan berkata lain. Tidak ada formula ajaib untuk bisa membuat Anda bahagia, namun pemaknaan seseorang terhadap peristiwa hidupnya yang bisa membuat ia bahagia, bagaimana Anda menyikapi setiap momen kehidupan Anda, mencernanya, dan melihat mutiara di baliknya, inilah yang bisa membuat Anda bahagia. Kebahagiaan itu hidup dan bertumbuh bersama Anda sama seperti tempurung kura-kura, dan adaptasi hedonic lah yang Anda perlukan untuk memahami dan mengerti pola kebahagiaan Anda.


Mitos 1, menikah akan membuat saya bahagia

Banyak penelitian menyatakan bahwa mereka yang tidak menikah ternyata tidak kalah bahagia dengan mereka yang menikah, namun banyak sekali dari mereka yang masih single merasa bahwa dengan menemukan pasangan hidup dan menikah akan membuat mereka bahagia, hal ini wajar, karena secara naluri manusia hidup dengan usaha-usaha untuk terus mengisi apa yang kurang dalam hidup mereka. Namun  memiliki keyakinian kuat dalam hal ini justru akan menjadi toxic mental dalam peta kebahagiaan Anda. Tidak bisa mengambil kepingan-kepingan positif sebagai seorang single dan menjadikan Anda secara terobsesi juga mencari pasangan hidup, seringkali membawa Anda menemukan orang yang tidak seharusnya menjadi pasangan Anda, intinya obesesi  Anda soal hubungan itu malah jadi menciptakanmindest yang terlalu emosional dan sensitif.


Mitos 2, mendapatkan pekerjaan impian akan membuat saya bahagia

Sudah menjadi hal yang umum di kota megapolitan sebesar Jakarta, bahwa orang-orang ingin mengejar pekerjaan impian mereka, mereka menganggap setelah mendapatkannya maka mereka akan terbang ke awan kebahagiaan. Ok, pada kenyataannya setelah mereka berhasil terjun dan masuk kedalam pekerjaan impian mereka, mereka hanya bahagia sebentar saja, setelah itu mereka akan mulai beradaptasi untuk mengembangkan diri, kembali memeras keringat dan otak. Inilah yang disebut dengan adaptasi hedonic. Sebuah adaptasi manusia untuk bisa menyukai apa yang mereka kerjakan, setelah doing what you love then learn to loving what you do NEXT. Karena sama seperti law of diminishing return, kenikmatan akan terus turun setelah kita mengecapanya, dan coba tebak? Yes, kita selalu butuh tantangan baru dan variasi. Jadi temukan apa pekerjaan yang Anda suka, namun sadirilah bahwa pekerjaan itu bukan lah kebahagiaan Anda, melainkan pertumbuhan Anda dalam pekerjaan itu yang akan membuat Anda merasa lebih bahagia.


Mitos 3, Jika saya menikah dengan orang yang tepat akan membuat bahagia

Tentu saja sangat baik menikahi orang yang tepat, namun sekali lagi, kebahagiaan itu bertumbuh dan hidup,  maka eveluasilah setelah pernikahan berjalan selama 3 tahun, biasanya Anda akan sadar dan merasa bahwa ada hal-hal yang "seharusnya" membuat kebahagiaan pernikahan Anda langgeng, dan persepsi mengenai itu berbeda antara Anda dan pasangan Anda, dan karena perbedaan-perbedaan tersebut, terkadang (atau bahkan sering) Anda akan merasa, ok there's something wrong about our progress. Tentu saja api passion Anda yang berkobar-kobar itu telah menjadi lilin kecil yang tenang dan imut, kreatifitas dan komunikasi efektif dengan pasangan akan mengobarkannya kembali, sehingga Anda bisa menghadirkan kembali honey moon effect.


Mitos 4, vonis penyakit berat tidak bisa membuat aku bahagia

Saat seseorang divonis mengidap suatu penyakit berat, dan butuh perawatan dan terapi khusus, mungkin mereka pikir ini lah akhir dunia mereka. Tentu saja akan terjadi tekanan bathin yang luar biasa, namun sekali lagi. Jika Anda memenuhi pikiran dengan apa yang diambil dari Anda dan apa yang tidak dapat Anda lakukan lagi, maka Anda akan merasa depresi. Namun tentu saja, kebahagiaan terus "mengintip" dan mencari waktu yang tepat untuk mencuri gol dari perasaan nelangsa Anda, akan selalu hadir momen-momen untuk merasakan bahagia, karena apa yang Anda mau pikirkan adalah pilihan Anda.


Mitos 5, tahun-tahun sukses cemerlang saya sudah berakhir

Usia seringkali menjadi kendala dalam produktifitas dan vitalitas, itu benar, lihat saja beberapa atlet sepakbola yang pernah jaya, tidak sampai satu dekade karir hebat mereka, mereka sudah "melempem", shevchenko, kluivert, pato, nuri sahin, robinho, sampai ronaldinho. Mereka merasa masa keemasan mereka telah berlalu. Beberapa dari mereka akan merasa stress dengan perubahan ini, namun tentu saja ada hal lain yang bertumbuh seiring dengan usia mereka. Pengalaman mereka bertumbuh, intuisi mereka lebih tajam, filosofi sepakbola mereka semakin hebat. Mereka bisa mulai membangun kesadaran baru untuk menjadi pelatih, dari action menjadi delegation.

Apa yang terjadi saat Anda merasa masa-masa kejayaan Anda hilang? Anda perlu belajar masuk ke wilayah yang baru, dimana pengalaman Anda akan berbicara banyak disana. Jadi masa-masa keemasan Anda selalu punya stage age. Kenyataannya orang-orang yang berussia diatas 60 tahun menjadi pribadi yang lebih spiritual, dan present oriented, ini  karena fokus mereka berubah, tidak terlalu ambisius dan dinganggu oleh godaan-godaan dunia yang future oriented mereka jadi jauh lebih menikmati kualitas hubungan dengan keluarga mereka, lebih ikhlas menerima hidup mereka, mereka menjadi lebih bijak.

Di elaborasi secara mandiri dari buku The Myths of Happiness
Back to top Go down
http://www.pizza-tehijame.blogspot.com
 
Mitos-Mitos Kebahagiaan
Back to top 
Page 1 of 1

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Lensa Psikologi Terapan Menjawab :: Tanya-Jawab atau Berbagi Mitra Pengetahuan :: Psychology Today, Compass, Sun, Times, Journal, Daily-
Jump to: